RP Kons Beo SVD April 13, 2020

Komunitas pilu: “guncangan akar” yang mendera

Betapa pilu nasib sebagian warga kulit hitam Amerika. Rumah dan kawasan tempat tinggal mereka telah rata tanah. Telah digaruk dan digusur atas nama modernitas. Dan modernitas itu ditandai oleh pembangunan jalan raya serta aneka sentra bisnis marketing dengan bangunan supermaket aduhai. Mewah dan menjulang. Luka hati menganga tercipta dalam sanubari kaum tanpa daya itu. Demikianpun kisah pilu ini merembes pula pada kaum imigran Irlandia, Polandia dan Italia.

Yang dilukiskan di atas ini, oleh Thompson Fullilove disebut sebagai guncangan akar (root shock). Bila diringkas dari karyanya, “Root Shock…” (2004), maka imbas terpentalnya para warga kulit hitam dan kaum imigran Eropa dari ”feeling at home” adalah stres traumatik. Ekosistem emosional terganggu. Kepercayaan diri berkurang. Kecemasan bertambah. Tali temali sosial jadi kusut dan rusak. Muncul bermacam penyakit berkaitan dengan rasa di hati. Manusia akrab dengan stres, depresi, mudah ngomel dan cepat marah hingga serangan jantung mendadak. Thompson yakin bahwa semuanya dikarenakan oleh tak ada lagi rumah kediaman yang aman untuk berteduh. Dan yang lebih parah adalah ‘hilangnya orang-orang yang disayang’. Sahabat, tetangga karib telah pergi entah ke mana?

Padahalnya, seturut pelukisan Tompson, seperti di Distrik Hill, misalnya, keakraban telah menjadi citra hidup keseharian. Segala hak dan kewajiban terjaga dan terhayati. Kebutuhan terjamin. Dan terjaga pula perilaku hidup yang senonoh. Distrik Hill itu didiami oleh orang-orang yang tidak cuma hidup dalam jumlah. Tetapi bahwa kualitas hidup bertetangga amat terukur dalam kebijaksanaan dan nilai-nilai hidup bersama. Kini, semuanya telah hilang demi kiblat kepada modernitas.

“Di Rumah Aja dan jaga jarak: Isyarat Guncangan Akar?”

Tetapi, mari kita bawa ‘root shock’ (guncangan akar) pada situasi kita kini. Tak dipungkiri, kemerdekaan isi jiwa dan batin kini pelan-pelan tergerus. Ranting-ranting hidup semangat kekeluargaan yang berbuah keakraban, kepolosan, kini diikat dengan ‘bendera merah’. Alam geeeeeeer bebas ceriah, kini harus ‘tertahan’ dan jadi kerdil. “Di rumah aja” dan “jaga jarak” memang menyelamatkan. Tetapi hal itu tak menutup risiko pingsannya naluri ceriah dari siapapun. Alam covid-19 berimbas pada kesenyapan yang memotong hasrat ‘kumpul-kumpul’. Upacara keagamaan yang beratmosfer ‘ramai-ramai’ ditiadakan. Segala ‘ketemuan-ketemuan’ yang persempit jarak fisik itu sudah dibabat. Jadilah kita “manusia tanpa.” Tanpa pesta, arisan, nonton bareng, ‘minum-minum’, koor, bicara adat, ritual bersama, kerja bersama,
belajar bersama dan seterusnya. Relasi kita dengan tetangga jadi sebatas ‘lihat dari jauh’. Harus ‘pikir ulang-ulang’ kalau mau ‘baku ajak untuk bekin rujak bersama sambil gosip om Ondos pung nama.’ Lihatlah anak-anak polos kita, tahu apa mereka dengan si covid-19 itu? Dan para cilik ini harus menanggung perintah orangtua “jangan ke mana-mana!”. Dunia anak yang penuh dengan ‘ketemuan’ dan main bersama harus digertak untuk ‘jaga jarak dan diam di rumah’?

Kini, sesuatu yang tak tersangkakan telah terjadi. Dan hal ini tentu bisa mengubah cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak serta mempengaruhi seluruh keberadaan keluarga. Karena itu, pada saatnya setiap anggota rumah perlu memikirkan cara-cara yang tepat demi menangkal rasa bosan ‘di rumah aja’ dan ‘jaga jarak’.

Rumah kediaman: Simbol Hati Bebas dan Jiwa Merdeka

‘Home sweet home’. ‘Rumahku adalah istanaku’. Rumah adalah simbol kemerdekaan batin. Karena itu amat disayangkan bila seseorang ‘makan hati’ justru di rumahnya sendiri. Apa artinya menjadi pimpinan di tempat kerja, teduh batin dalam segala urusan pekerjaan, disegani serentak bisa diakrabi oleh siapapun. Namun sayangnya, ketika kembali ke rumah harus jadi suami yang pusing tujuh keliling hadapi istri yang cerewet ‘mati punya dan tidak ada obat memang’. Kitapun ingat pula akan lagu indah yang dinyanyikan sekelompok anak muda, “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri”. Tetapi lihatlah, ‘nyanyi-nya di pos kamling. Sambil ‘minum-minum’. Dan di tengah malam. Suara teriak menggelegar lagi. Saat warga kampung sudah pada istirahat malam.’ Ada lagi anak yang dilarang bermain teman karibnya sebelah rumah. Ini hanya karena mamanya ‘tidak baku enak hati’ dengan tetangganya itu. Ada sesuatu yang telah terjadi. Ada “guncangan akar” (root shock) yang tengah menggelora. Dan bukan tak mungkin si covid-19 berimbas pada aneka tampilan dan isi hati setiap anggota keluarga. Karenanya, rumah kediaman harus diteduhkan sungguh dalam aura kasih dan bahana sukacita.

Memang, rumah harus jadi tempat di “mana hati orang berada”. Damai, kemesrahan, kepolosan, ringan hati mesti menjadi cahaya-cahaya nilai dalam rumah. Di rumah terdapat kualitas relasi yang paling dasar dan asli. Dari situ dapat terbaca bagaimana cara seseorang berelasi dengan dunia dan sesama. Mungkin teribarat bagai ‘pohon-rumah yang baik tentu akan menghasilkan buah yang baik. Dan bagaimana mungkin dari ‘rumah bersemak duri akan ditemukan buah anggur nan lezat?

Kini ‘tinggal di rumah’ dan ‘jaga jarak’ mesti diterima sebagai satu panggilan kehidupan bersama. Si corona virus kini lagi ‘menata’ cara berpikir yang mungkin lama terabaikan. Kata-kata berikut ini sadarkan kita, “kebertetanggaan bukan hanya tempat di mana orang dapat hidup bersama-sama. Di sana kebijaksanaan hidup diajarkan..” (Radcliffe-2005). ‘Tinggal di rumah’ memang adalah pilihan dan tindakan bersama. Demi kehidupan bersama pula. Sayangnya, bila seruan ‘tinggal di rumah’ ditilik sebagai satu perintah rotan dan cambuk yang memaksa siapapun untuk melihat rumah sendiri bagai sel tahanan.

Tak Cukup Tinggal di Rumah Aja dan Jaga Jarak

“Tinggal di rumah” dan “jaga jarak” mesti diladeni dengan tindak dan tutur kata kreatif. Orangtua terpanggil untuk menjadi sahabat anak-anak di rumah. Seperti misal, orangtua bisa menjadi pencerita yang hebat demi plantasi nilai-nilai kehidupan. Orangtua kini punya banyak waktu untuk menjadi pendidik dan pembentuk akhlak anak-anak. Dari dalam rumah terlahirlah kata-kata yang sejuk, cinta damai, penuh pengampunan, saling membantu. Bukan tak mungkin, kedekatan intens orangtua dengan anak-anak membuat orangtua memiliki pengetahuan cukup mengenai kharakter sang anak. Bisa terlihat jelas pula apa yang menjadi bakat dan keutamaan yang dimiliki setiap anak.

Jelas, hal ini amat berpengaruh demi satu orientasi masa depan sang anak. Karena tak mungkin memaksa anak yang berbakat ‘utak-atik mesin’ untuk belajar musik misalnya. Tak terabaikan pula, bahwa sikap hati orangtua terhadap setiap anak secara afektif amat terasa dan membekas. Karena anak-anak bisa segera tahu mama selalu ada di pihak mana dan bapak akan membela siapa? Karenanya, perhatian menyeluruh orangtua terhadap semua anak bukanlah hal sepele.

Saat tersadari bahwa dunia anak tak lepas pisah dari alam permainan, maka rumah kediaman adalah ‘satu gelanggang’ permainan. Dari permaiinan yang mengasa otak, menguji pengetahuan, pun pada mengarah pada ketrampilan.

Dan lagi, lebih banyak waktu di rumah, membuat keluarga jadi sadar bahwa segala urusan di rumah adalah tanggungjawab bersama. Bila sang suami bekerja di luar rumah, kini ia makin maklum betapa repotnya rentetan tetek bengek urusan di rumah oleh sang istri. Dan ternyata semuanya bisa dikerjakan secara bersama. “Tinggal di rumah” dan “jaga jarak” mesti dilihat pula sebagai lahan subur untuk satu komunikasi yang lebih dalam dan hangat di dalam rumah (komunitas).

Saling berkisah, sikap saling mendengarkan adalah potensi positif untuk menghadapi masalah hidup bersama. Masalah rumah tangga adalah ‘masalah bersama’. Karenanya harus diretas bersama pula. Demi mendapatkan satu jalan keluar bersama. Dengan demikian suami dan istri luput dari saling terjang kata dalam menuduh dan saling mempersalahkan. Di atas segalanya, sebagai orang beriman, dalam rumah sendiri setiap anggota harus belajar untuk melihat satu sama lain sebagai sesama peziarah iman. Saling mendoakan dan menasihati dalam Tuhan. Untuk melihat ‘rumah sendiri’ sebagai ‘sakramen’, tanda kehadiran Tuhan sendiri.

Thompson Fullilove menulis, “Kehidupan berkembang dari waktu ke waktu, dan setiap usaha pemecahan masalah menjadi bagian dari kenangan bersama dan dasar bersama untuk mengatasi persoalan.”

Apapun “guncangan akar”, kita pasti selalu arif dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Demi kehidupan dan kebaikan bersama.

Hari-hari ‘tinggal aja di rumah’ dan ‘jaga jarak’ sungguh adalah kesempatan mulia demi sebuah proses ‘ongoing formation’ (pembentukan berlanjut) bagi keluarga. Demi menjadi keluarga yang seharusnya. Rumah kediaman tetaplah menjadi rumah harapan yang mencerahkan. Dia harus lebih cerah dari covid-19 dengan segala kisah menakutkan. Tanpa cahaya lampu.

Collegio San Pietro, Roma, 13.04.2020