Komsos Ruteng April 3, 2020

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan! Ibarat perahu para murid yang terombang-ambing oleh angin sakal di danau Galilea, bahtera Gereja saat ini pun sedang dilanda oleh pusaran arus dasyat wabah korona. Yang diserang bukan hanya kesehatan dan kehidupan kita, tetapi juga penghayatan iman Kristiani kita. Untuk pertama kali dalam sejarah, selama beberapa minggu bahkan dalam Pekan Suci, kita tidak merayakan ekaristi umat di Gereja dan kapela di seluruh wilayah keuskupan Ruteng. Dalam situasi kecemasan, ketakutan dan kebimbangan ini, sabda peneguhan Yesus kepada para murid di danau Genesaret yang bergelora, kiranya menyentuh dan meresapi hati dan budi kita: “Tenanglah, jangan takut!” Dalam situasi wabah yang terjadi, kita hendaknya tak perlu panik dan cemas. Ketenangan Kristiani ini bukanlah sebuah hiburan romantis, tetapi sungguh sebuah keyakinan teguh yang dibangun dalam kehadiran Tuhan sendiri: “Aku ini!”.

Kehadiran Allah yang meneguhkan dan menghidupkan dalam hidup manusiawi kita yang rapuh dan terbatas, persis itulah yang kita rayakan dalam peristiwa Paskah. Paskah mengungkapkan bahwa dalam kehidupan dunia yang diwarnai oleh kelemahan dan bahaya, kita selalu berada dalam lindungan kasih ilahi. Dalam ziarah hidup kita yang diliputi oleh penyakit dan penderitaan di muka bumi ini, Tuhan tidak berpangku tangan, tetapi Dia selalu bersama kita. Dia turut memanggul salib kita. Lebih dari itu paskah menyingkapkan cahaya pengharapan, bahwa di balik gelapnya kematian akan merekah fajar kebangkitan. Kristus tidak bangkit untuk diri-Nya sendiri, tetapi agar kita hidup dan “mempunyainya dalam kelimpahan” (Yoh 10:10). Dalam terang lilin Paskah, hidup kita yang fana dan rapuh di dunia memiliki arti: Jatidiri manusiawi kita tidak tergerus oleh penyakit, dan tidak hilang dalam kematian tetapi berlanjut dan diubah dalam penyembuhan dan kehidupan yang abadi.

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan! Dalam semangat paskah saya mengajak kita semua untuk menjadikan situasi wabah virus Korona ini sebagai momentum pembaruan. Sambil terlibat dalam gerakan bersama Pemerintah dan semua elemen masyarakat dalam mencegah dan menangani wabah ini, marilah kita terus bergerak untuk memperbarui diri. Paskah adalah saat berahmat untuk bangkit bersama Kristus, dan keluar dari cara dan gaya hidup yang lama. Meskipun tahun ini kita tidak bisa merayakan secara meriah perayaan pekan Suci di Gereja-gereja dan kapela-kapela kita, tapi yakinlah, sesuai arahan Kongregasi Ibadat Ilahi, keikutsertaan secara rohani perayaan pekan suci melalui ibadah keluarga tiada kurang maknanya bagi kita. Allah sungguh hadir bersamamu di tengah keluarga dan komunitasmu. Dia mempersembahkan korban paskah-Nya bagimu di tengah keluargamu. Halleluya paska tahun ini bergema dari setiap mulut dan hati yang tulus mencari dan memuliakan Allah di tengah keluarga dan komunitasnya. Perjumpaan dengan Allah tidak hanya bergema dalam liturgi yang meriah, tetapi juga dalam kebeningan batin yang terbuka bagi kehadiran-Nya.

Selanjutnya iman Kristiani tidak hanya terungkap dalam ibadat tetapi harus terwujud dalam perbuatan hidup sehari-hari. Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17). Menurut nabi Mikha mengenal Allah berarti menegakkan keadilan (Mi 6:8). Berbagi dan berbelarasa dengan sesama khususnya dengan yang lemah, sakit dan menderita merupakan panggilan dasar hidup Kristiani (Mat 25). Hidup yang benar tampak dalam hati yang mencari Allah dan sekaligus terwujud dalam persaudaraan dan solidaritas. Bukankah bencana korona ini telah memporakporandakan semua cara hidup yang dibangun di atas egoisme, kekayaan dan kenikmatan duniawi? Tidakkah wabah ini memperlihatkan kepada kita bahwa wajah kemanusiaan terpancar dalam solidaritas dan pengurbanan seperti yang ditunjukkan oleh para perawat, dokter, relawan dan semua ‘tangan’ yang tulus menolong para pasien dan penderita? Marilah kita jadikan situasi wabah ini sebagai momentum yang tepat untuk membangun peradaban kasih di tengah dunia ini.

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan! Dalam sukacita paskah, saya juga ingin menyampaikan syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada seluruh umat Allah keuskupan Ruteng dan semua pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan tahbisan saya sebagai Uskup Ruteng pada tanggal 19 Maret 2020. Saya yakin, pengurapan sebagai uskup adalah anugerah Allah dan perutusan bunda Gereja untuk melayani. Dalam segala liku-liku hidup ini saya sungguh mengalami dekapan cinta ilahi yang selalu setia mendampingi dan memeluk diri saya. Dalam kekuatan rahmat, sebagai Uskup saya ingin memberi kesaksian tentang cinta Allah yang indah itu dan ingin memimpin dan menjalankan seluruh pelayanan pastoral di keuskupan Ruteng ini dalam kasih. Karena itulah saya mengambil moto tahbisan omnia in caritate: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Kor 16:14).

Marilah kita berjalan bergandengan tangan untuk terus membangun dan mengembangkan pelayanan kasih di tanah Nucalale ini. Terlebih dalam Tahun Penggembalaan 2020, mari kita berjalan bersama Dia, Yesus Kristus, sang Gembala Agung. Dia adalah Gembala yang baik (Yoh 10), yang mengenal dan mencintai kita domba-domba-Nya. Dia selalu menuntun kita “ke padang rumput yang hijau” dan membimbing kita “ke mata air yang tenang”. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, dan terancam oleh wabah penyakit, kita tidak takut, sebab Dia selalu beserta kita (Mzm 23). Mari kita membiarkan Dia menuntun kawanan domba keuskupan Ruteng dalam tuntunan kasih ilahi-Nya.

Ruteng, 2 April 2020

Uskupmu,

Mgr. Siprianus Hormat