RP Kons Beo SVD May 18, 2020

Satu Kisah yang Tak Pernah Senyap

Ada satu kisah dramatis yang dapat kita baca dalam Kisah Para Rasul. Kisah yang dimaksud diberi judul Saulus Bertobat (Kis 9:1-19a). Ada sekian macam tafsiran yang unggul demi memaknai Kisah Saulus di jalan menuju Damsyik itu. Ugo Sartorio, OFMConv, misalnya, menulis artikel dalam Rivista di Spirituale 2/2020/ anno 74, hal 151-155. berjudul “Possiamo Ancora Parlare di Conversione di Paolo?” (Apakah Kita Masih Dapat Berbicara tentang Bertobatnya Paulus?). Dalam artikelnya itu, Sartorio masih sempat mengaduk-aduk kisah jalan ke Damsyik dengan pertanyaan: Converzione o vocazione? Apakah peristiwa Saulus di jalan ke Damsyik itu adalah satu kisah pertobatan ataukah panggilan?

RP Kons Beo SVD

Kisah Saulus di jalan ke Damsyik umum disepakati sebagai kisah pertobatan. Saulus, seorang turunan Israel dari suku Benyamin, memang bukan dari kalangan biasa. Dia adalah seorang Farisi. Tentu ia tegar dalam membela Taurat. Baginya, siapapun yang berada di luar ‘sistem’ Yahudi, apalagi yang berseberangan paham memang harus dibungkam. Berbekal surat sakti dari petinggi Mahkamah Agama (sanhendrin), Saulus menuju Damsyik dengan “berkobar-kobar hati untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan”(Kis 9:1-2).

Pada titiknya, kisah Saulus di jalan ke Damsyik sungguh tak pernah surut dalam nilai. Tak pernah padam untuk direnungkan. Damsyik yang menjadi destinasi heroiknya, justru harus menjadi awal dari pengalaman iman personal, dari ziarah misioner-apostolik seorang “Saulus”. Suara yang memanggil (vocazione), serasa dahsyat untuk menjadi awal untuk mengubah Saulus dari kisah-kisah silamnya (conversione).

Dibutakan untuk dapat melihat…

Saulus yang perkasa itu, di dekat kota Damsyik, ternyata harus rebah ke tanah. Cahaya dari atas langit terasa amat kuat untuk mengelilinginya. Cahaya itu sekian berdaya atas seluruh pribadi dan ziarah hidup Saulus. Saulus yang telah merasa diri ‘di atas segala-galanya’ kini oleh cahaya itu, mesti ‘direbahkan ke tanah’. Saulus tersungkur dalam persentuhan dengan debu tanah. Awal meninggalkan segala kedigdayaannya. Tetapi, Kisah Para Rasul masih mencatat, “Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik” (Kis 9:8).

Saulus kini harus menjadi manusia tanpa kekuatan apapun. Tiada kesanggupan untuk menoleh kembali pada kejayaannya. Tetapi juga tiada kekuatan apapun untuk bergerak maju. Kebutaan itu telah tenggelamkan Saulus dalam dirinya sendiri. Ia harus berpasrah pada kuasa apapun yang menuntunnya. Alih-alih datang untuk menangkap, mengancam, membunuh, ia justru menjadi tahanan yang ditangkap tanpa perlawanan apapun.

Memang Saulus harus ‘dibutakan’ untuk dapat melihat kembali. Bola matanya yang lama ‘mesti dibersihkan’. Tak cuma untuk tidak dapat melihat kembali segala kisah yang dulu, tetapi bahwa Saulus mesti disiapkan untuk mulai sanggup melihat ke depan dengan bola mata baru yang bersih. Untuk sanggup melihat satu masa depan yang lebih cerah dan unggul dalam kehendak dan penyelenggaraan Tuhan sendiri.

Bila mesti menyimak spirit Saulus yang telah sanggup melihat dengan bola mata baru dalam “Paulus”, maka betapa ia sungguh telah berubah secara radikal. Paulus akui bahwa ia telah mati oleh hukum Taurat, demi hidup untuk Allah dan telah disalibkan dengan Kristus, “namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Tak ada apapun yang patut dikejar dan dikerjakan selain kehendak Kristus sendiri. Itulah keyakinan dasar Paulus yang telah melihat secara baru, dengan sinar mata baru pula. Kita ingat akan kata-katanya, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Segalanya kini telah berubah, sebab tulis Rasul Paulus, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu yang kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulai dari semuanya” (Flp 3:7-8).

Jalan menuju ke Damsyik, cahaya dari langit, suara yang memanggil, serta kisah ‘dibutakan’ adalah rentetan awal yang mengubah segalanya dalam ziarah hidup Saulus, untuk menjadi Paulus. Di dalam kepingan kisah-kisah ini, Rasul Paulus sesungguhnya masuk dalam “misteri Paskah”, dalam deritanya (buta), dalam kematian atas kisah lama, dan dibangkitkan untuk kehidupan yang baru dalam Kristus. Hidup dan mati, bagi Rasul Paulus, sungguh ada dalam kuasa Kristus sendiri. Kepada jemaat di Filipi, ia menulis “Karena bagi-ku hidup adalah Kristus dan mati adalah satu keuntungan” (Flp 1:21).

“Hati-Hati: Sebab Musuh Itu Tidak Boleh Dipercayai, Bukan?”

Kini, semudah itu kah Saulus terima dalam dalam komunitas? Saulus jelas bagi komunitas, adalah bayangan maut. Kisah hidupnya itu sarat kekejaman. Dan bahwa nama Saulus itu tak pernah terpisahkan dari pedang dan pertumpahan darah. Bukankah kematian tragis Stefanus terjadi di hadapannya? Karena dikisahkan, ketika Stefanus diseret ke luar kota dan dirajam sampai mati, dan “saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus…. Dan Saulus setuju bahwa Stefanus mati dibunuh” (Kis 7:58 & 8:1a).

Sikap penuh waspada memang penting. Kekuatiran yang tertanam di hati Ananias amatlah manusiawi. Menerima dan menjalankan titah Tuhan untuk mencari seorang bernama Saulus tidak begitu mudah untuk dilaksanakan, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyak kejahatan yang telah dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu” (Kis 9:13-14).

Saat Saulus ada dalam pergulatan awal pertobatannya, Ananias dan juga komunitas kaum beriman tentu ada juga dalam pergulatan. Saulus yang telah dipanggil dan diterima oleh Tuhan, kini harus masuk dalam proses inisiasi ke dalam komunitas murid yang percaya itu. Menghilangkan kenyataan hidup lama Saulus, memang bukan perkara yang mudah. Komunitas tentu tidak begitu saja menerimanya sebagai ‘hadiah ilahi’ yang pantas bagi jemaat. Bagi jemaat, kejahatan tetaplah menjadi kisah kejahatan.

Tak Cuma Saulus: Komunitas Juga Perlu Dicahayai

Titah Tuhan kepada Ananias terdengar jelas. “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan namu-Ku kepada bangsa-bangsa lain dan raja-raja serta orng-orang Israel..” (Kis 9:15). Ananias tentu ada dalam pergumulan antara naluri manusiawi dan ketaan akan perintah Tuhan. Haruskah ia pergi mendekati Saulus yang pada kenyataannya amat berbahaya itu? Sanggupkah Ananias hilangkan rasa cemasnya akan pedang tajam Saulus yang mematikan itu?

Ananias bisa menjadi wakil jemaat agar bisa diubah pula. Berubah dalam cara berpikir, cara bersikap, dan cara menilai. Karena toh, apa artinya sebuah kisah “panggilan dan pertobatan” Saulus apabila ia tidak memiliki tempat dalam hati komunitas? Sebagaimana Tuhan telah meluluhkan dan melumpuhkan hati Saulus yang berkobar-kobar, Tuhan kini harus mencairkan hati Ananias dan jemaat yang dingin penuh cemas, dan bahkan berkeringat dingin penuh curiga.

Yang kini terjadi adalah bahwa kuasa kasih Tuhan memenangkan segalanya. Sapaan Ananias kepada Saulus sungguh penuh keteduhan, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus” (Kis 9:17).
Hati tercahayakan dari Ananias perlahan terungkap saat ia memperpendek jarak fisik dari Saulus. Dan jarak fisik yang semakin dekat itu kini dimahkotai lagi dengan jarak batin penuh spontan dan lugas. Saulus kini telah disapa, diterima dan diperlakukan sebagai “saudaraku”.

Kita Dalam Bingkai Panggilan dan Pertobatan Saulus

Setiap kita ada dalam penyelenggaraan Tuhan. Ziarah hidup kita tentu ada awal, bagaimana berjalannya, dan bagaimana pula berakhirnya. Kita tentu mengimpikan jalan hidup yang asri, penuh keyakinan dan tanpa hambatan. Tetapi siapapun kita, tetap tak sanggup memastikan sempurna tapak-tapak peziarahan hidup ini. Apa yang diyakini Saulus sebagai benar, atas dasar keyakinan yang lurus, ternyata mesti dibenarkan dan diluruskan lagi dalam kuasa penyelenggaraan Tuhan.
Apa yang menjadi keyakinan kita seringkali mesti diarahkan untuk satu rencana dan maksud yang lebih luas. Dan hal ini termungkinkan dalam kelapangan hati membaca dan menemukan ‘pikiran’ Tuhan. Tetapi hal ini juga menjadi kokoh ketika ada kesediaan hati untuk diubah. Bila harus menelisik hikayat para kudus, tentu amat sering ditemukan sekian banyak kisah masa lampau yang tak indah dan mendebarkan. Dan Tuhan, dalam penyelenggaraanNya, mengubah semuanya menjadi baru dan indah pada waktunya.

Tetapi, adalah tugas Gereja untuk melihat dengan hati sekian banyak orang yang tak ‘tahu jalan pulang’ di ziarah hidup ini. Mewartakan belaskasih Tuhan dan memberitakan Kabar Gembira tentu mesti bertolak dari keberanian dan kesigapan hati untuk berada dalam pelbagai skandal, keterbatasan dan serba kekurangan. Komunitas beriman tahu apa artinya skandal penyaliban itu. Ketika Yudas telah berkhianat, Petrus menyangkal, murid-murid lain menghindar, Thomas kemudian bahkan ragu akan kebangkitan Tuhan. Dan komunitas perdana kini harus menerima ‘seorang Saulus yang berpedang kejam?’

Apa yang diajarkan Tuhan adalah belaskasih yang sanggup menerima siapapun. Tanpa syarat. Jauh dari belaskasih dan kerelahan hati adalah kebohongan belaka. “Bagi orang Kristen, kebohongan yang besar adalah memandang orang lain tanpa belaskasihan, menutup mata kita terhadap kebaikan mereka sebagai manusia dan tetap membebani mereka dengan beban-beban dosa mereka” (Radcliffe,2005). Kita memang “tak dapat melihat orang lain dengan benar jika kita tidak memandang mereka dengan belaskasih.” Dalam diri setiap manusia terdapat rencana Tuhan yang tak terduga. Bila ikuti alur pikiran St Thomas Aquino maka memandang sesuatu (manusia) sebagai ciptaan bukan sekadar melihat dia di depan mata kita saja, tetapi melihat dia diciptakan untuk menjadi apa. Bukankah Tuhan melampaui lukisan dari segala narasi dan kata-kata manusiawi kita?

Tetapi bagaimanapun, kisah tak sedap Saulus di masa lalunya bukanlah skandal yang mudah tercopot begitu saja. Komunitas bisa saja terjebak dalam kemelut batin yang tak mudah terurai, atau malah sebaliknya lebih terkusut lagi. Sikap hati dan cara berpikir dualisme lama sering menjadi rantai-rantai yang kokoh membelenggu: kambing-domba, sisi kiri-sisi kanan, minoritas-mayoritas, gelap-terang, asing-pribumi, hamba-orang merdeka, penuh dosa dan saleh. Meneropong Saulus dengan teleskop manusiawi akan menjerembabkan komunitas pada kecemasan dan sikap pesimisme. Akan tetapi, memandang Saulus dalam kesetiaan mendengarkan “suara Tuhan” akan membangunkan jemaat menuju harapan baru.

Merenungkan situasi Gereja, komunitas kristiani, persekutuan iman yang acapkali terbantai oleh kompetisi “baik-buruk, saleh-pendosa, produktif-kurang kerjaan”, kita renungkan kata-kata Radcliffe, “Kita harus menolak untuk berbicara tentang Gereja seolah-olah di sana ada pahlawan-pahlawan yang baik dan penjahat-penjahat yang keji”.
Kebencian dan ketidaksukaan hanya akan mempersempit dan memperpicik cara pandang dan hati nan lapang. Karya agung belaskasih Tuhan amatlah luhur dan sungguh nyata bagi siapa saja yang berkenan dan berkehendak baik.

Ananias telah dituntun Tuhan hingga akhirnya ia sanggup menyapa, “Saulus, saudaraku”.
Saatnya kita terbuka hati an berjiwa besar untuk menyapa siapapun sebagai “Saudaraku, saudariku dalam Kasih Yesus, Tuhan dan Guru.”

Collegio San Pietro Roma, Mei 2020.