RP Kons Beo SVD April 11, 2020

Kisah kita yang ‘tak sempurna’

Anda asyik menonton TV. Siaran langsung yang mendebarkan. Tinju dunia Pacman vs Morales seri III. Anda pendukung fanatik si boxer Philipino itu. Ronde demi ronde Anda cermati serius. Jangan coba-coba memang ada yang usil bikin buyar konsentrasi. Namanya cari hal yang tidak perlu. Jual beli pukulan seru dan sengit. Sulit diprediksi siapa bakal jadi pemenang. Jelas hati Anda condong ke Pacquiao. Tapi Anda ragu-ragu juga. Morales, si Terrible-Mexican itu, bukan petinju ayam sayur, bahwa Pacman bisa ‘main frei suka-suka’.

Ronde demi ronde tetap buat jantung bergetar. Menggugupkan memang. Pertandingan yang sungguh menegangkan. Saat begitu larut, serius dan cermat menonton.. pluk… listrik padam!!!
Reaksi Anda? Marah? kesal? Letih? Tak nyaman dan mulai reaksi banting barang–barang di dekat?

Sebuah kisah kemenangan yang sudah pelan-pelan Anda rajut dalam hati jadi buyar tak berujung. Listrik padam. Terhentinya arus listrik menyisahkan lubang menganga dalam hati. Kalah ka Pacman? Menang ka dia? Sebuah kisah jadi terhenti bahkan terputus…

Tapi hati Anda tetap rindu untuk menggapai cerita akhir pertandingan itu.

Dalam ziarah hidup ini ada sekian banyak kisah-kisah kita yang terhenti dan terputus. Tetapi kita tetap memiliki pengharapan.

Para Murid dan Kisah-kisah Terputus.

Ada bersama TUHAN bukanlah jaminan bahwa kisah para murid menjadi satu alur cerita lengkap. Kisah Injil nampaknya menjelaskan hati para murid yang penuh bimbang. Mereka menyangka Dia adalah hantu di pagi buta (cf Luk 24:37). Mereka tak paham akan apa yang diajarkanNya. Dan ada banyak yang ‘bersungut-sungut dan bahkan banyak yang mengundurkan diri (Yoh 6:60-66). Yakobus dan Yohanes tidak tahu apa maksud yang mereka minta untuk duduk di sebelah kiri dan di sebelah kanan (Mrk 10:35). Bahkan kepada Petrus yang dianggap bernyali besar, dihardikNya, “Enyalah iblis. Engkau adalah satu sandungan bagiKu” (Mat 16:23).

Cerita terputus para murid makin nyata di jalan derita Tuhan. Yudas berkhianat. Petrus menyangkal. Yang lain? Entah ke mana? Di atas salib Tuhan malah di temani orang asing dan sangar ,(Mrk 15:27). Syukurlah, di kaki salib ada ‘sisa-sisa kecil’ yang setia.

Bagaimanapun, kisah yang terputus itu mesti disambung dan dilanjutkan lagi. Entah bagaimana caranya? Maka kisah Paskah harus menjadi fokus baru agar Para Murid bisa mencapai TUHAN. Mereka jangan bermimpi untuk pulang lagi ke ‘serial jadi murid babak pertama’. Yang itu telah tercecer. Hancur berserakan! Kini, tak cukup hanya melihat kekosongan makam. Karena itu adalah ‘milik makam’. Tak boleh ada silogisme sederhana: makam kosong, Tuhan pasti bangkit. Tak boleh pula keasyikan pada penampakan. Karena penampakan itu milik Tuhan. Malah untuk menyentuhNya saja, Tuhan melarang si Maria itu (Yoh 20:17).

Terasa berat memang hati para murid untuk kembali seperti dulu lagi. Kita ibaratkan saja mereka bagai pemuda yang mengkhianati cinta pertamanya. Lalu berjuang tertati-tati untuk ‘memperolehnya kembali’. Berat kan? Tetapi kebangkitan tetap menjadi romantisme alkitabiah yang dapat diimaginasi. Andaikan Tuhan menghardik Petrus, ‘Kini kau datang lagi padaKU. Setelah kau siksa diriKu. Terlambat sudah, terlambat sudah. Semuanya telah berlalu’. Siksa Tuhan dengan penyangkalan.

Namun imajinasi bebas seperti itu tentu tak akan tiba pada kenyataannya. Yakinlah Tuhan pun kangen bersua dengan para muridNya.

Paskah Tuhan: antara derita dan keberanian

Para murid tidak boleh tiba-tiba saja langsung ‘melenting’ masuk pada Kisah Paskah. Dari persembunyian yang aman, mereka harus melewati warta dan kisah derita yang telah mereka hindari. Saya sendiri yakin, di setiap penampakanNya, saat Tuhan tunjukan bekas luka pada tangan dan kaki pada para murid, bukan pertama-tama supaya para murid terkagum-kagum bahwa Ia sungguh bangkit. Tetapi penampakan dengan bekas luka itu adalah ‘pedagogi hati dan iman’ bagi para murid untuk mencapai Paskah-Nya. Bukankah dalam anemnesis liturgi sebelum diucapkan “KebangkitanNya kita muliakan”, kita harus berani ucapkan , “Wafat Kristus kita maklumkan” untuk menantikan “kedatanganNya yang kita rindukan”?

Sejarah Gereja dalam semangat Paskah senantiasa terpintal dalam derita dan pengorbanan. Cahaya paskah tidak bermakna bila ia tak lewati gelapnya makam itu.

Orangtua yang sungguh pegagogik tidak akan pernah menunjukkan kepada anak-anak sekian banyak kejayaan dan kebesarannya, melainkan ia lebih berkisah pada bagaimana perjuangan untuk mencapai semuanya. Bahwa di bola matanya yang meredup telah terlewati dan ‘masih tersimpan selaksa peristiwa’.

Di atas semuanya, Paskah menuntut pula harapan yang sehat. Harapan seperti itu mesti dipilari tangguh oleh keberanian. Keberanian membunuh keragu-raguan dan ketakutan yang meracuni. Tetapi keberanian yang dimaksudkan adalah penyerahan diri pada Tuhan. Kita, sekali lagi, tak pernah tahu seperti apa cerita hidup kita ke depan. Tetapi dalam Tuhan yang bangkit kita diteguhkan.

Andaikan kita ‘sudah tahu’ pasti bakal seperti apa jadinya hidup ini, maka pudarlah harapan kita. Kita jadi tawar hati di pertandingan hidup ini karena kita telah tahu pasti seperti apa hasil akhirnya. Sekian banyak orang kecewa dalam hidup karena merasa sudah berhasil mendesain pasti hidup. Tetapi pada akhirnya kecewa berat. Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan, ‘bulan madu, hanya mimpi’. Itulah sebabnya, malaikat di makam itu, kepada para perempuan, harus mengatakan “jangan takut”. Karena betapa rentannya kita manusia. Dikuasai oleh ketakutan dan rupa-rupa kecemasan.

Covid-19 dan kisah yang terputus

Nampaknya ‘jalan hidup’ kita kini terhenti sejenak. Kita jelas tak pernah tahu bahwa jalan hidup di tahun 2020 ini akan dipalang dan terhalang oleh si corona virus ini. Derita dan kematian Golgota ada banyak terjadi di sana. Di tempat yang ‘banyak makan korban’.

Tetapi sejatinya kitalah yang merasakan kegelapan makam-makam mereka’ di rumah kita masing-masing. Jaga jarak, masker, cuci tangan, kebersihan, makanan sehat, menjadi alarm serius. Jangan lupa, kita mesti tetap dirumahkan. Ya, kita bagai ‘dimakamkan di rumah sendiri’. Dan ‘makam rumah’ kita itu dijaga ketat oleh pihak keamanan, bak makam Yesus yang dijaga ketat oleh serdadu-serdadu Romawi.

Paska kembalikan kita untuk harus lewati jalan penuh derita. Dan ini tentu menuntut pengorbanan dan keberanian.

Asal berani bodoh pelesir sesuka hati keluar, dengan alasan ‘Tuhan di pihakku, aku tidak takut’ sebenarnya adalah ungkapan betapa meranggasnya iman itu. Karena tindakan konyol itu ibarat jihad teroris untuk menjemput bom berdaya ledak cepat dan tinggi untuk memusnahkan sekian banyak orang. Dan bila kita ‘ada di rumah’ ini tidak berarti bahwa kita bertindak bagai kaum fugitivus. Yang amankan diri sendiri dan membiarkan sekian sesama umat manusia mati terkapar.

Paskah Tuhan telah terjadi setelah tiga hari Tuhan dalam kegelapan makam. Lalu paskah kita?

Kesabaran, harapan dan iman taruhannya. Jelas, dalam iman akan Tuhan, kita diselamatkan! Tidak ada satu manusiapun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi benar, bahwa ada cara bahwa ia diselamatkan. Dan itulah misteri kebangkitan Tuhan. Seturut Rasul Paulus, tanpa kebangkitan, maka sia-siah iman kita. Kisah makam kosong bisa saja kabur. Akan tetapi apakah kita meragukan kata-kata Tuhan sendiri tentang misteri Paskah Anak Manusia: “Mereka akan mencambuk dan membunuh Dia, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit” (Luk 18:33).

Seratus tujuh puluh satu imam student, kami tinggal dalam satu komunitas. Episode hidup terhenti sejenak. Segala lakon perkuliahan di berbagai disiplin ilmu ‘terputus’. Di antaranya, pasti ada yang menulis tesis tentang misteri Paskah Tuhan. Sepatutnya “hentikan dulu penyelidikan biblis tentang misteri Paskah’. ‘Menderitalah’ dulu untuk tenang di rumah. Tidak ke kampus. Tidak pula ke paroki-paroki jauh.

Misteri Paskah menuntut keberanian untuk lepaskan hidup yang mau kita pastikan. Untuk menatap hari esok yang entah bagaimana akan terjadi. Mata rantai corona virus mesti dihentikan. Tapi si corona itu tak pernah boleh hentikan mata rantai keberanian, pengharapan dan iman.

Collegio San Pietro, Roma, Paska Tuhan 12.04.2020.