Primus Dorimulu April 12, 2020

Peringatan Tri Hari Suci oleh umat Kristen tuntas di perayaan Sabtu Suci. Pada Sabtu malam, umat beriman merayakan Paskah, memperingati kebangkitan Yesus dari alam maut dan kemenangan menghancurkan kuasa dosa.

Paskah bagi umat Kristen adalah Hari Pembebasan. Hari pembebasan manusia dari kuasa dosa. Kuasa dosa yang menyebabkan maut. Kuasa dosa yang menyebabkan hubungan manusia dan Allah, sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, terputus. Dengan kebangkitan-Nya, kuasa dosa dipatahkan dan alam maut dikalahkan. Hubungan manusia dan Allah terjalin kembali.

Bagi orang Yahudi, Paskah artinya “Tuhan Lewat” untuk membebaskan mereka dari penindasan. Paskah adalah perayaan keagamaan yang sangat penting bagi orang Yahudi. Mereka secara rutin, setiap tahun dan turun-temurun, memperingati pembebasan leluhur mereka oleh Yahwe dari penindasan Raja Firaun.

Itu sebabnya, Yerusalem dipenuhi manusia setiap Paskah. Seluruh warga Yahudi di berbagai wilayah dan perjuru bumi datang ke Yerusalem. Apalagi, pada saat itu, bangsa Israel di bawah penjajahan Romawi. Ritual keagamaan menjadi ajang wisata religi yang menarik sekaligus momentum bagi mereka untuk saling meneguhkan ingatan kolektif sebagai bangsa pilihan.

Di kota yang dibangun dengan indah oleh Raja Daud dan Salomo ini, mereka merayakan Paskah bersama. Menu Paskah adalah domba jantan muda tanpa cela dan roti tidak beragi. Sebagai orang Yahudi, Yesus dan 12 rasulnya ikut ke Yerusalem untuk merayakan Paskah.

Saat memasuki Yerusalem, Dia dielu-elukan warga Yerusalem dengan nyanyian “Hosana, Putra Daud”. Sehari kemudian, sebagian dari orang yang sama, terhasut para imam dan ahli Taurat, berteriak, ” Salibkan Dia.”

Yasus akhirnya menjalani hukuman mati, dipaksa memanggul salib hingga puncak Golgota, dan menghembuskan nafas terakhir di tiang gantung. Tiga hari kemudian, Yesus bangkit dari alam maut.

“Pembebasan” adalah diksi paling tepat dalam menggambarkan semangat perayaan Paskah, baik Paskah Yahudi maupun Paskah Kristen. Orang Israel dibebaskan dari penindasan Firaun dan dibawa kembali oleh Musa ke Tanah Terjanji dengan pusatnya, Yerusalem, kota bersejarah, tempat Abraham mempersembahkan Ishak, putranya. Pada masa itu, Yerusalem disebut Bukit Muria.

Setiap mengadakan ritual Paskah, orang Yahudi menyantap domba Paskah. Menu yang dimakan leluhur mereka ketika hendak meninggalkan Mesir. Leluhur mereka mempersembahkan domba jantan muda tanpa cela kepada Yahwe. Domba itu dibakar dan dagingnya dimakan bersama roti tidak beragi.

Dalam Paskah Kristen, Yesus adalah persembahan itu sendiri, menggantikan anak domba. Dia adalah Anak Domba yang dipersembahkan Allah untuk keselamatan manusia. Anak Domba itu telah dibantai. Darah-Nya ditumpahkan di kayu salib untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa dan belenggu maut.

Pada hari ketiga, Yesus bangkit dari alam maut. Keempat penulis Injil –Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes– menulis dengan rinci balada penderitaan, wafat, pemakaman, dan kebangkitan Yesus.

Setelah Yesus wafat, jenazahnya dikuburkan oleh Jusuf, seorang bangsawan dari Arimetea. Dia bersama Nikodemus, juga bangsawan di masanya, diam-diam, menemui Pilatus meminta izin menguburkan Yesus sesuai tata cara Yahudi. Jusuf memiliki sebuah kubur baru di dekat lokasi Yesus disalibkan.

“Pagi hari setelah tiga malam dikuburkan atau sehari setelah hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria yang lain ke kubur Yesus. Di sana mereka menemui kubur yang kosong.

Batu penutup pintu kubur telah tergeser, kubur terbuka, dan malaikat Tuhan duduk di atas batu penutup kubur. Penjaga ketakutan dan tak berdaya seperti orang mati.

Mereka yang datang ke kubur pun gemetar ketakutan. “Janganlah kamu takut, sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring,” kata Malaikat.

Malaikat itu minta mereka segera pergi untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada murid-murid-Nya, bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. “Ia mendahului kamu ke Galilea, di sana kamu akan melihat Dia,” ujar Malaikat.

Mereka segera pergi dari kubur itu dengan takut, tapi dengan sukacita yang besar. Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitahukan kabar baik itu kepada murid-murid Yesus.

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.

“Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku,” kata Yesus. (Matius 28: 1-10, Yoh 20: 1-10, Markus 16: 1-8, dan Lukas 24: 1-12).

Perayaan keagamaan penting untuk meneguhkan collective memory atau ingatan kolektif. Orang Yahudi selalu memperingati secara rutin pembebasan mereka dari Mesir.

Para murid Yesus pun selalu berkumpul untuk mengenang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus sejak Yesus menampakkan diri kepada mereka. Perayaan ritual keagamaan memperkuat ingatan kolektif.

“Indonesia juga mempunyai ingatan kolektif,” kata Mgr Ignatius Suharyo, kardinal dan uskup agung Jakarta dalam kothbah Misa Sabtu Suci, 11 April 2020, yang disiarkan langsung oleh TVRI. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Hari Kemerdekaan, dan Pancasila dimaksudkan untuk memperkuat ingat kolektif. Ingatan kolektif itulah yang membuat rakyat Indonesia selalu merasa satu sebagai satu bangsa.

Pembebasan

Paskah adalah perayaan pembebasan. Orang Yahudi merayakan Paskah untuk memperingati pembebasan mereka dari Mesir. Sedang umat Kristen merayakan Paskah untuk memperingati pembebasan manusia dari kuasa dosa dan maut.

Sejarah keselamatan dimulai dari masa persiapan kedatangan Yesus, kelahiran, masa Yesus hidup dan mengajarkan firman-Nya, sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Bagian sejarah keselamatan terpenting adalah kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Ketiga hal ini dimaknai dalam satu kesatuan.

Tiada kebangkitan tanpa salib atau penderitaan dan kematian di kayu salib. Karena itu, salib bagi orang Kristen merupakan simbol paling hakiki. Salib bukan tanda kekalahan, melainkan simbol kemenangan. Salib bukan hanya dilihat sebagai beban tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, tapi juga simbol pembebasan.

Salib merupakan simbol pertobatan. Lewat salib, kita menguburkan dosa kita untuk bangkit bersama Yesus. Jika kita mengikuti jalan salib Yesus, kita pun akan bangkit seperti Dia. Itu dimungkinkan karena Yesus telah mati untuk kita.

“Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Roma: 6: 10-11).

Kebangkitan Badan

Kebangkitan adalah kabar paling penting bagi manusia. Bahwa badan yang binasa oleh kematian akan bangkit. Umat Kristen percaya pada kebangkitan badan dan kehidupan kekal.

Tubuh yang telah bangkit sama seperti tubuh Yesus, yang tidak terikat pada ruang dan waktu. Tubuh yang telah dirohanikan. Tubuh yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus karena mengatasi ruang dan waktu.

Setelah bangkit, Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya di berbagai kesempatan. Satu saat, ketika para murid-Nya sedang berkumpul di sebuah ruang terkunci, tiba-tiba Yesus sudah berada di tengah mereka.

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu, datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! “

“Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi, Damai sejahtera bagi kamu!”
(Yohanes 20:19-

Syahadat Katolik jelas menegaskan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. “‚ĶAku percaya akan akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, kebangkitan badan, dan kehidupan kekal,” demikian bunyi salah satu bagian syahadat Katolik.

“Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” (I Korintus 15: 16-17)

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (I Korintus 15: 19-22)

Selain kata “pembebasan”, dua kata yang menonjol pada perayaan Paskah adalahpkata gelap dan terang. Gelap dan kegelapan adalah suasana penindasan, simbol dosa dan maut. Sedang terang adalah simbol kemenangan.

Oleh karena itu, pada Sabtu Suci ada upacara Lilin Paskah. Suasana gelap berubah menjadi terang. Kegelapan dosa dihalau oleh kemenangan Yesus lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Hati yang Baru

Menjelang Paskah, Paus Fransiskus mengatakan, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus adalah misteri iman yang agung. Umat Kristen perlu merespons dengan sikap tobat. Meninggalkan cara hidup lama yang tidak berkenan pada Allah, menguburkan dosa bersama kematian Yesus, dan menciptakan hati yang baru bersama kebangkitan Yesus.

Kehidupan ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Oleh karena itu, kata Paus, kita tidak boleh menjalani hidup ini sesuai keinginan kita, melainkan sepenuhnya mengikuti kehendak Allah.

Menghadapi badai pandemi coronavirus diseases 2019 (cofid-19), umat Kristen perlu menampilkan buah-buah kebangkitan, yakni hati yang baru, hati yang menyerupai hati Yesus. Kita tidak perlu ke Galilea seperti para rasul-Nya untuk menemui Yesus. Karena Yesus ada di sekitar kita. Yesus ada dalam diri mereka yang menderita.

Semua mereka yang lapar, haus, sakit, tak punya tumpangan, dan di penjara adalah Yesus. Begitulah Yesus menjelaskan siapa diri-Nya dan itulah yang menjadi kriteria penilain-Nya saat Ia datang pada akhir zaman sebagai hakim.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan, ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian, ketika Aku sakit, kamu melawat Aku, ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25: 35-40)

Dengan hati yang baru, mari kita dengan lebih peka dan solider memperlakukan para penderita cofid, para tenaga medis yang berada di garda depan merawat pasien dengan alat pelindung diri yang minim, dan sesama saudara yang jatuh miskin karena ambruknya ekonomi dihajar badai cofid-19.

Saat ini, PHK terjadi di mana-mana. Pengangguran dan kemiskinan meningkat. Ekonomi kian merosot.

Paskah itu membebaskan. Membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kuasa maut. Dan itu hanya mungkin kalau kita mempunyai hati yang baru. Hati yang bersedia membebaskan sesama yang menderita.

Selamat Paskah!

Cibubur, Minggu dinihari, 12 April 2020, pukul 12.35 WIB.