Primus Dorimulu April 11, 2020

Hari ini adalah Jumat Agung. Bukan Jumat Sengsara. Jumat Agung lebih gamblang menggambarkan realitas sejarah. Orang Kristen menyebutnya sebagai bagian dari Sejarah Keselamatan.

“Sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus” dibaca dalam satu nafas dan dipahami dalam satu kesatuan. Tiada kebangkitan tanpa penderitaan dan kematian di kayu salib.

Disebut Jumat Agung karena belada kematian Yesus, mulai dari penangkapan hingga Ia menghembuskan nafas yang terakhir di kayu salib, adalah “Jalan Kasih”.

Hal itu bukan berarti Yesus tidak menderita. Ia diludahi, ditampar, dimaki, dicambuk, dipaksa memikul salib hingga puncak Golgota, dan wafat di kayu salib. Sebuah penderitaan mahahebat dialami Yesus.

Oleh karena itu, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir di kayu salib, Yesus mengatakan, “Sudah selesai.” (Yohanes 19:30).

Dengan mengatakan “sudah selesai”, Yesus hendak menyampaikan pesan bahwa “Ia sudah selesai menapaki jalan kasih.”

Ia sudah tuntas menjalankan tugas suci: membasuh luka dosa manusia dengan darah-Nya. Menyembuhkan manusia dengan bilur-bilur-Nya.

Banyak orang di bumi fana sepanjang sejarah yang menanggung penderitaan mahahebat, yang mungkin jauh melebihi penderitaan Yesus. Dalam sejarah perkembangan Kristen, banyak orang Kristen disekap berbulan-bulan dan mati dengan cara digoreng dikuali atau bertarung dengan singa.

Tapi, penderitaan Yesus memiliki nilai tertinggi yang tiada taranya.

Pertama, Yesus dihukum mati bukan karena kesalahan-Nya.

Yesus tidak ditangkap sebagai seorang penjahat, melainkan akibat tuduhan yang dirakayasa oleh para pemimpin agama Yahudi yang merasa tersisihkan oleh ajaran revolusioner Yesus.

Yesus acap mengecam cara beragama orang Yahudi yang formalistis dan munafik. Berdoa panjang-panjang, keras-keras, pamer saat berpuasa, dan selalu menampilkan diri seakan-akan orang suci. Simak dua contoh kothbah-Nya.

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius: 6-18)

Pada bagian lain, Yesus mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hai kamu orang-orang munafik. Sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik. Sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Matius 23: 25-28)

Kedua, Yesus mampu melawan dan menghindari penderitaan. Karena Dia mempunyai kuasa sebagai Allah. Tapi, Yesus dengan tulus-ikhlas menerima penderitaan itu karena kasih-Nya yang besar.

“Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabat-Nya. (Yohanes 15:13).

Demi keselamatan seluruh umat manusia, Yesus rela menderita, bahkan hingga mati di kayu salib demi menebus dosa manusia.

Kelahiran hingga kematian dan cara Yesus mati sudah diramalkan para nabi. Yesus adalah penggenapan daripada Kitab Taurat.

“Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.” (Yesaya 53:7).

Ketiga, faktor utama yang mendorong Yesus menanggung penderitaan adalah “kasih”. Kasih itu berbagi, bahkan berkorban.

Jika kita mengembalikan sesuatu yang merupakan hak orang lain yang kita ambil, itu adalah hal biasa.

Bila kita memberikan sesuatu kepada orang yang sering memberikan kita sesuatu, itu adalah juga hal lembah.

Tapi, jika kita memberikan kepada orang lain sesuatu yang bukan haknya, melainkan hak kita, itu namanya kasih. Tapi, jika kita berkorban hingga menyerahkan nyawa kita, itu adalah kasih agung, kasih Yesus.

Ya, “selesai sudah”. Jalan penderitaan dilewati Yesus dengan penuh sukacita. Jalan salib sudah ditunjukkan-Nya sebagai jalan kebahagiaan. Jalan kemenangan.

“Hai putri-putri Yerusalem. Jangan tangisi Aku, tapi tangisi dirimu sendiri dan anak-anakmu,” kata Yesus. (Lukas 23:28).

Tulus Ikhlas

Tapi, penderitaan Yesus hingga wafatnya di kayu salib adalah sebuah pilihan yang dijalankan-Nya dengan tulus ikhlas. Tidak ada keterpaksaan dari dalam diri-Nya.

Saat Yudas Iskariot membawa pasukan Romawi untuk menangkap-Nya, Yesus tidak melawan. Petrus yang sempat menghunus pedang dan memotong telinga kanan Malkhus, hamba Imam Besar yang mendampingi serdadu Romawi, Yesus melarangnya.

“Sarungkan pedangmu itu. Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” kata Yesus. (Yohanes 18:11).

Cawan adalah penderitaan. Cawan adalah darah yang ditumpahkan-Nya. Dia memilih meminum cawan itu.

Setelah Perjamuan Malam bersama murid-Nya, Yesus menuju Taman Getsemani, di seberang Lembah Kidron. Lembah ini memisahkan Bukit Muria –yang saat itu sudah dikenal dengan nama Yerusalem– dengan Bukit Zaitun. Dari puncak Bukit Zaitun kita bisa memandang dengan cukup jelas Kota Tua, Yerusalem Timur. Pada kejayaan Israel, di Kota Tua ini ada Kenisah Yerusalem, rumah para imam agung, dan Istana Raja Yahudi yang kemudian menjadi Istana Pilatus.

Yesus selama hidupnya sering merenung dan berdoa di Taman Getsemani, lokasi indah yang terletak di lembah Bukit Zaitun. Jarak rumah tempat Yesus mengadakan Perjamuan Malam dan Taman Getsemani sekitar 2 km.

Rumah tempat Yesus mengadakan Perjamuan Malam bersama murid-Nya tidak jauh dari Istana Pilatus, juga rumah Imam Agung Hanas dan Kayafas. Kayafas, menantu Hanas sudah lama memprokasi massa dengan argumen agama. Bahwa Yesus sudah menghujat Allah. Karena di berbagai tempat Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Putra Allah.

Oleh karena itu, Yesus harus dibunuh. “Adalah lebih berguna bila satu orang mati untuk seluruh bangsa,” begitu provokasi Kayafas kepada orang Yahudi, khususnya kaum Farisi dan ahli Taurat.

Imam Agung dan ahli taurat tidak menyebutkan ajaran Yesus yang lain, melainkan hanya tentang pernyataan-Nya sebagai Putra Allah. Karena hanya pernyataan Anak Allah inilah umat Yahudi bisa diprovokasi.

Anas meminta penjelasan Yesus tentang pengikut-Nya dan ajaran-Nya. Yesus tak mau menjelaskan dan hanya menjawab agar pertanyaan itu dilontarkan kepada masyarakat.

“Aku berbicara terus terang kepada dunia. Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul. Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi,” kata Yesus (Yohanes 18:20).

Pegadilan Agung

Kayafas kemudian membawa Yesus ke gedung pengadilan. Yesus dihadapkan kepada Pilatus, Gubernur Yudea yang berkedudukan di Yerusalem. Yudea menjadi salah satu provinsi Kerajaan Romawi.

“Apa tuduhanmu terhadap orang ini,” tanya Pilatus.

“Jika Dia bukan penjahat, kami tidak akan menyerahkan-Nya kepadamu,” kata orang massa Yahudi yang sudah di-setel opininya oleh Anas dan Kayafas, dua Imam Agung Yahudi yang merasa kekuasaan mereka sebagai pemimpin umat sudah dirongrong oleh Yesus.

“Ambillah Dia dan hakimilah Dia sesuai hukum Tauratmu,” ujar Pilatus.

Adu siasat imam agung dan Pilatus pun makin seru.

“Kami tidak boleh membunuh seseorang,” kata orang Yahudi.

Pilatus masuk ke ruang pengadilan menemui Yesus. “Engkau inikah raja orang Yahudi? ” tanya Pilatus.

Yesus tahu apa yang ada di dalam pikiran Pilatus. Bahwa Pilatus pun tahu bahwa tidak ada sama sekali gerakan Yesus untuk melakukan kudeta melawan Romawi.

Kalau pun sehari sebelumnya, Yesus dielu-elukan masuk Yerusalem dengan nanyian “Hosana Putra Daud”, Pilatus sama sekali tidak melihat itu sebagai ancaman. Pilatus tahu, Yesus tak punya pasukan bersanjata.

“Apakah engkau mengatakan hal itu dari hatimu sendiri ataukah ada orang lain yang memberitahukan kepadamu,” timpal Yesus.

Pilatus tak mau mati langkah dan ia pun balik bertanya. “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku. Sebetulnya, apa yang engkau perbuat?” tanya Pilatus.

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi, Kerajaan-Ku bukan dari sini,” jawab Yesus.

Pilatus ingin memastikan posisi Yesus. “Jadi, Engkau adalah raja?” tanya Gubernur Yudea itu.

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku,” jelas Yesus.

Pertanyaan Pilatus memberikan kesempatan kepada Yesus untuk memberikan persepektif baru. Bahwa kerajaan juga punya bentuk lain, yang bersifat rohaniah, yang abadi.

“Apakah kebenaran itu?” desak Pilatus.

Kebenaran adalah kosakata baru baginya. Yesus mengakui sebagai raja, tapi raja yang datang ke dunia untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran.

Hanya orang yang berasal dari kebenaran yang mendengarkan suara Yesus. Kata-kata itu terus mengiang-ngiang di pikiran Pilatus.

Pilatus kian bingung. Pertama, ia ragu apakah ia bagian dari kebenaran. Kalau dia tidak mendengarkan suara Terdakwa yang ada di hadapannya, ia bukan bagian dari kebenaran.

Pilatus pun keluar ruang pengadian untuk mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”

Sambil mengamati wajah para imam agung dan orang Yahudi yang sudah terhasut, Pilatus mencoba memberikan solusi.

“Pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?” tanya Pilatus.

“Jangan Dia, melainkan Barabas!” jawab orang Yahudi serempak. Barabas adalah seorang penjahat kakap zaman itu. Sedang Yesus tidak ditangkap sebagai seorang penjahat.

Mencuci Tangan

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh prajurit menganiaya Dia. Pilatus tak mau posisinya terancam gara-gara Yesus. Provokasi para pemimpin agama bisa mengancam posisinya. Roma bisa mencopotnya dari jabatan gubernur.

Para prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu.

Pilatus keluar lagi menemui massa dan berkata kepada mereka, “Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”

Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu.

“Lihatlah manusia itu!” kata Pilatus.

Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka, “Salibkan Dia, salibkan Dia!”

Pilatus kaget mendengar desakan bertubi-tubi agar ia menghukum mati Yesus. Sementara dari pemeriksaan, ia tidak menemukan secuil kesalahan Yesus, apalagi sebuah kesalahan yang setimpal dengan hukuman mati.

“Ambil Dia dan salibkan Dia. sebab aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya,” teriak Pilatus.

“Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati. Sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah,” desak orang Yahudi.

Suara massa terus menggema dan membesar. Ketika mendengar jawaban itu, Pilatus bertambah takut.

Ia pun masuk ke dalam gedung pengadilan dan bertanya lagi kepada Yesus, “Dari manakah asal-Mu?”

Yesus tidak memberi jawab sepatah pun. Pilatus kian yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak layak dihukum. Sebagai seseorang yang bukan Yahudi, ia tak paham apa itu Allah dan menghujat Allah.

Pilatus ingin jawaban Yesus untuk klarifikasi. Melihat sikap Yesus yang diam, ia pun berusaha menggertak, “Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?”

“Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu, dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya,” jawab Yesus dan itu kian menempatkan Pilatus dalam kebingungan.

Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi terus mendesak dengan melontarkan jurus maut.

Jurus yang terakhir ini menempatkan Pilatus dalam posisi sangat dilematis.

“Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.”

Pilatus diadu dengan Kaiser Romawi yang mengangkatnya sebagai gubernur. Pilatus tak berkutik.

Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.

Pilatus menemukan jurus baru. Ia harus memposisikan Yesus sebagai raja dengan harapan orang Yahudi membatalkan tuntutan hukuman mati.

Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu, “Inilah rajamu!”

Melihat Yesus dan mendengar kata-kata Pilatus, berteriaklah orang Yahudi, “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!”

Makin gusarlah Pilatus melihat keberingasan dan serangan balik orang Yahudi.

Kata Pilatus kepada mereka, “Haruskah aku menyalibkan rajamu?”

“Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!” jawab para imam.

Pilatus pun menyerah. Ia tidak mau dibenturkan dengan Kaiser, atasannya.

Tapi, karena ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus, ia pun mengumumkan kepada massa dan para pemimpinnya.

“Saya tidak bertanggung jawab terhadap darah orang ini,” ungkap Pilatus.

Dengan keras, para imam dan massa Yahudi menjawab, “Biarlah darah-Nya jauh ke atas kami dan anak-anak kami.”

Pilatus pun mencuci tangan sebagai ungkapan tidak ikut bertanggung jawab terhadap human yang dijatuhkan kepada Yesus.

Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.

Sejak saat itu, “mencuci tangan” menjadi istilah yang dikenakan kepada mereka yang tidak mau bertanggung jawab terhadap sebuah masalah dan keputusan.

Sambil memikul salib-Nya, Yesus pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani disebut Golgota. Di situ Ia disalibkan.

Bersama-sama dengan Yesus, disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.

Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib yang berbunyi, “Yesus, Orang Nazaret, Raja orang Yahudi.”
Kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin, dan bahasa Yunani.

Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu. Sebab Golgota terletak di dekat kota. Saat ini, Golgota sudah bagian dari kota Yerusalem. Jalan dari bekas gedung pengadilan ke Golgota melewati pasar dan tidak sampai setelah jam.

Para imam kepala dan orang Yahudi melontarkan protes kepada Pilatus, “Jangan engkau menulis Raja Orang Yahudi’ , tetapi bahwa Ia yang Mengatakan, Aku adalah Raja Orang Yahudi.”

“Apa yang kutulis, tetap tertulis,” tegas Pilatus yang sudah mati kutu berhadapan dengan orang Yahudi.

Bagaimana mungkin ia menghukum orang yang tidak bersalah hanya karena takut desakan massa? Takut kehilangan jabatan? Tapi, itulah fakta.

Selesai Sudah

Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian?

Dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.

Karena itu, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.”

Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.” Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.

Perjalanan hidup Yesus, sejak dari kandungan, kelahiran, bertumbuh menjadi dewasa, mengajarkan Firman-Nya, hingga Ia menderita sengsara, wafat, dan dimakamkan, sesuai dengan ramalan Kitab Suci. Perjalanan hidup Yesus menggenapi naskah Kitab Suci.

Di dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia?supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, “Aku haus!”

Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Yesus dengan sukarela dan tulus ikhlas menderita sengsara dan menumpahkan darah-Nya di kayu salib karena kasih-Nya yang tak hingga kepada manusia.

Sebagai manusia, Ia sungguh merasakan penderitaan itu. Namun, lebih dari penderitaan itu sendiri adalah motivasi-Nya yang murni untuk menyelamatkan manusia.

Tiada kasih yang lebih besar selain seseorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya. Dalam menghadapi pandemi cofid-19, kita mengapresiasi para dokter dan perawat yang sudah gugur demi kesembuhan pasien corona.

Kita menyebut Great Friday, Jumat Agung. Karena di hari ini, Yesus menunjukkan Kasih-Nya yang besar kepada manusia agar manusia selamat dan bisa meneladani-Nya.

Hari ini bukanlah Jumat Sengsara, karena jalan salib yang dilewati Yesus adalah Jalan Kasih, Jalan Keselamatan. Jalan yang ditempuh-Nya dengan tulus-ikhlas dan penuh suka cita.

Hari ini adalah Jumat Agung karena Kasih-Nya yang agung.

Cibubur, Jumat, 10 April 2020, pukul 20.30 WIB.